Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/semutcom/public_html/wp-settings.php on line 520

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/semutcom/public_html/wp-settings.php on line 535

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/semutcom/public_html/wp-settings.php on line 542

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/semutcom/public_html/wp-settings.php on line 578

Deprecated: Function set_magic_quotes_runtime() is deprecated in /home/semutcom/public_html/wp-settings.php on line 18
bahwa hidup adalah untuk berbagi

Jalan

Aku sudah menyadari sejak awal, bahwa hubungan ini seperti menggantang asap. Menegakkan benang basah. Berharap sesuatu, yang telah sangat disadari, tidak akan pernah dimiliki.Tapi aku tetap menjalaninya. Tetap memperlakukannya seperti layaknya hubungan yang banyak dilakoni.  

Aku tidak pernah berharap untuk bertemu dengan dia, di sebuah taman, saat senja menjelang, dan hujan baru saja berhenti. Tangannya hangat. Kehangatan yang mengalahkan temaram surya. Kehangatan yang kemudian ku rasa memberiku hidup, dan membuatku merasakan keindahan yang telah lama tak singgah. 

Dia membuatku lebih hidup. Membuatku  lebih menghargai hidup, yang sebelumnya sering aku sia-siakan.Dia melengkapiku. ”Kamupun melengkapiku” selalu dia menjawab hal yang sama. 

Aku bahagia, dia bahagia. Tapi kebahagiaan tidak tercipta untuk kami selamanya. Aku menyadari, sebagaimana dia menyadari, bahwa kami hanya memiliki kemarin dan hari ini, tetapi tidak akan pernah memiliki hari esok. 

Dia pergi. Dalam kehancuran. Kehancuran yang juga ku rasakan. 

Aku menantinya, di tempat yang sama, 10 tahun yang lalu saat kami pertama kali bertemu. ”Hanya kamu yang bisa melengkapiku” sebaris pesan singkat masih ku baca.Aku mengerti, bila penantianku senja ini akan sia-sia. Aku menyadari bahwa, hidupnya kini akan terus berjalan. Berjalan selayaknya sebagian orang harapkan. 

”Aku selalu menunggumu. Memiliki waktu untukmu. Menjaga cinta untukmu”. Sebaris pesan ku kirimkan. Yang aku tahu, akan segera dihapusnya. Bukan karena keengganannya, tetapi karena seharusnya seperti itu. 

 

”Kamu bodoh. Sebodoh-bodohnya manusia yang pernah dilahirkan !!”. Serampah itu kerap ku dengar. Sakit terasa di awal. Tapi kemudian telingaku telah menebal, dan menahan kembali semua kata-kata yang melayang menuju indera pendengaranku. 

Aku mungkin bodoh.Tetapi hatiku tidak buta. Aku rela berada dalam gelap, menanti dalam kesendirian, berharap cemas dalam kegamangan, hanya untuk tetap menumbuhkan rasa ini, rasa yang telah membuatku hidup dan percaya bahwa ada seseorang yang diciptakan untuk kita. Rasa yang telah membuatku percaya dan yakin, bahwa aku hidup untuk memberinya bahagia. Bahagia yang tidak bisa didapatkan, kecuali dari aku. Aku yang selalu memberinya telinga untuk mendengar. Aku yang selalu memberinya kedua tangan untuk menegakkan kepalanya. Aku yang selalu mengiringi langkahnya, saat kelam dan terang. 

Aku sadar, bahwa ini jalan yang ku pilih. Pilihan yang juga dipilihnya. Dipilih oleh kami.Jadi, jangan bilang aku bodoh, karena aku hanya menjalani pilihanku.

Bilakah cinta itu datang ?

Ya, saya masih belum bisa menjawab pertanyaan itu. Bahkan sebelum pertanyaan itu muncul, saya masih juga belum bisa mendefinisikan apa itu cinta. Saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang belum bisa memberi arti pada lima huruf : C - I - N - T - A.

Saya kerap mencari makna cinta. Mensitir tulisan, bertukar pemikiran, berbagi perasaan.

Perjalanan saya mencari makna cinta, bermuara pada fase kenyamanan. Saat saya berada dengan seseorang, siapapun dia, dan saya merasa nyaman, maka saya menganggap saya merasakan cinta. Sesederhana itu.

Bila demikian, maka saat ini saya benar-benar jatuh cinta, dalam sekali.

Malam

Saya masih juga terjaga, walau jarum jam terus berdetak tanpa henti. Deringnya mengingatkan saya bahwa hari telah berganti. Sudah senyap sebenarnya, tapi rangkaian lagu-lagu bajakan terus mengalun dari laptop saya. Ah, betapa sebuah lagu dapat mempengaruhi suasana hati.

Usia saya sudah tidak muda lagi, bahkan untuk sebagian orang, usia saya adalah tahap kematangan dan masa keemasan. Saya tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena bagi saya age ain’t nothing but a number. Cuma penambahan hari, minggu, bulan, dan tahun. Tidak menggambarkan lebih dari itu, apalagi sesuatu yang bernama kedewasaan.

Banyak rencana tergambar dalam benak saya, yang sudah tersusun dengan rapih di alam sadar. Berusaha untuk diuraikan menjadi saat ini atau masa depan. Manusia memang cenderung memiliki rencana, karena tanpanya hidup layaknya sebuah perahu yang berjalan tanpa arah.

Saya berhenti pada fase ini. Entahlah, bayangan akan seseorang pada masa lalu, yang ternyata masih enggan beranjak dari ruang terdalam, atau ketidakpastian yang sulit dilihat pada awalnya, membuat saya berjalan pada sebuah lorong, yang kedua sisinya terhalang tembok gelap. Saya belum berhasil mendefinisikan apa yang terjadi pada malam itu, saat saya melewati Ibukota, di tengah malam, berkawan dengan kehidupan malam.

” Lebih baik kita berteman saja “.

Saya membacanya, dan tersenyum.

Sepanjang malam itu, langit seperti menjadi semakin kelam. Bunyi gitar dari seorang pengamen di bis kota menjelma menjadi gerakan pantomin pada bibir, yang berusaha dilihat oleh orang buta.

Atas nama perasaaan, saya seharusnya terluka. Tapi atas nama logika, cinta tak pernah mengenal luka. Hanya ketidaksamaan waktu dan kesempatan, yang membuat harapan itu sirna.

Selamat malam cinta, harummu menghilang, bahkan disaat aku belum berhasil mengendusnya.

Too High

” What i got is less than i expected ?”

” How come ?”

” Much much much least “.

” So …. ?”

” Completely so dissapointed !! “.

” Is it necessary to feel that way ?”

” I have my own right to felt that way”

” You’re right. No doubt !”.

” And once again, just felt so dissapointed “.

” Why do you feel that way ?. Nothing’s wrong with what you got. You’re expectation is too high, that’s the point. If only, you put down just a little, you don’t need to angry.