No Comments February 8th, 2008 in Stories
Ya, saya masih belum bisa menjawab pertanyaan itu. Bahkan sebelum pertanyaan itu muncul, saya masih juga belum bisa mendefinisikan apa itu cinta. Saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang belum bisa memberi arti pada lima huruf : C - I - N - T - A.
Saya kerap mencari makna cinta. Mensitir tulisan, bertukar pemikiran, berbagi perasaan.
Perjalanan saya mencari makna cinta, bermuara pada fase kenyamanan. Saat saya berada dengan seseorang, siapapun dia, dan saya merasa nyaman, maka saya menganggap saya merasakan cinta. Sesederhana itu.
Bila demikian, maka saat ini saya benar-benar jatuh cinta, dalam sekali.
1 Comment January 15th, 2008 in Stories
Saya masih juga terjaga, walau jarum jam terus berdetak tanpa henti. Deringnya mengingatkan saya bahwa hari telah berganti. Sudah senyap sebenarnya, tapi rangkaian lagu-lagu bajakan terus mengalun dari laptop saya. Ah, betapa sebuah lagu dapat mempengaruhi suasana hati.
Usia saya sudah tidak muda lagi, bahkan untuk sebagian orang, usia saya adalah tahap kematangan dan masa keemasan. Saya tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena bagi saya age ain’t nothing but a number. Cuma penambahan hari, minggu, bulan, dan tahun. Tidak menggambarkan lebih dari itu, apalagi sesuatu yang bernama kedewasaan.
Banyak rencana tergambar dalam benak saya, yang sudah tersusun dengan rapih di alam sadar. Berusaha untuk diuraikan menjadi saat ini atau masa depan. Manusia memang cenderung memiliki rencana, karena tanpanya hidup layaknya sebuah perahu yang berjalan tanpa arah.
Saya berhenti pada fase ini. Entahlah, bayangan akan seseorang pada masa lalu, yang ternyata masih enggan beranjak dari ruang terdalam, atau ketidakpastian yang sulit dilihat pada awalnya, membuat saya berjalan pada sebuah lorong, yang kedua sisinya terhalang tembok gelap. Saya belum berhasil mendefinisikan apa yang terjadi pada malam itu, saat saya melewati Ibukota, di tengah malam, berkawan dengan kehidupan malam.
” Lebih baik kita berteman saja “.
Saya membacanya, dan tersenyum.
Sepanjang malam itu, langit seperti menjadi semakin kelam. Bunyi gitar dari seorang pengamen di bis kota menjelma menjadi gerakan pantomin pada bibir, yang berusaha dilihat oleh orang buta.
Atas nama perasaaan, saya seharusnya terluka. Tapi atas nama logika, cinta tak pernah mengenal luka. Hanya ketidaksamaan waktu dan kesempatan, yang membuat harapan itu sirna.
Selamat malam cinta, harummu menghilang, bahkan disaat aku belum berhasil mengendusnya.
No Comments January 4th, 2008 in Stories
” What i got is less than i expected ?”
” How come ?”
” Much much much least “.
” So …. ?”
” Completely so dissapointed !! “.
” Is it necessary to feel that way ?”
” I have my own right to felt that way”
” You’re right. No doubt !”.
” And once again, just felt so dissapointed “.
” Why do you feel that way ?. Nothing’s wrong with what you got. You’re expectation is too high, that’s the point. If only, you put down just a little, you don’t need to angry.
No Comments January 1st, 2008 in Stories
Dalam kekhawatiran, maka aku tersenyum. Walau tak banyak yang mampu disembuhkan oleh seulas senyum. Tak ada luka yang terobati, tak ada harap yang tertepati.
Tapi aku tetap tersenyum.
Dalam hampa, aku tetap tersenyum. Betapapun kerontang telah menggila, mengiris trakea dan menyumbat hirup udara. Aku meranggas. Tapi aku tetap tersenyum.
Senyum yang ku tak tahu apa artinya.
Kita tidak bercakap malam itu. Langit memang kelam, gerimis seolah datang tanpa diminta. Membasahi jejak rerumputan dan bunga bakung, yang baru saja kita jejaki. Patah.
Gemericik air hujan semakin menjadi, menciptakan genangan air pada tanah yang tak berpori. Kita tetap berjalan, memecah air yang menggenang, membuncahkan lingkaran semu hujan pada tanah.
Jejak kita tertinggal.
Aku tersenyum. Dalam hujan yang terus turun. Hujan meluruhkan air mataku. Memekak teriakanku. Meredam tangisku. Aku hanya bisa tersenyum.
Aku tersenyum. Senyum yang aku tak tahu apa maknanya.