Jalan
Aku sudah menyadari sejak awal, bahwa hubungan ini seperti menggantang asap. Menegakkan benang basah. Berharap sesuatu, yang telah sangat disadari, tidak akan pernah dimiliki.Tapi aku tetap menjalaninya. Tetap memperlakukannya seperti layaknya hubungan yang banyak dilakoni.
Aku tidak pernah berharap untuk bertemu dengan dia, di sebuah taman, saat senja menjelang, dan hujan baru saja berhenti. Tangannya hangat. Kehangatan yang mengalahkan temaram surya. Kehangatan yang kemudian ku rasa memberiku hidup, dan membuatku merasakan keindahan yang telah lama tak singgah.
Dia membuatku lebih hidup. Membuatku lebih menghargai hidup, yang sebelumnya sering aku sia-siakan.Dia melengkapiku. ”Kamupun melengkapiku” selalu dia menjawab hal yang sama.
Aku bahagia, dia bahagia. Tapi kebahagiaan tidak tercipta untuk kami selamanya. Aku menyadari, sebagaimana dia menyadari, bahwa kami hanya memiliki kemarin dan hari ini, tetapi tidak akan pernah memiliki hari esok.
Dia pergi. Dalam kehancuran. Kehancuran yang juga ku rasakan.
Aku menantinya, di tempat yang sama, 10 tahun yang lalu saat kami pertama kali bertemu. ”Hanya kamu yang bisa melengkapiku” sebaris pesan singkat masih ku baca.Aku mengerti, bila penantianku senja ini akan sia-sia. Aku menyadari bahwa, hidupnya kini akan terus berjalan. Berjalan selayaknya sebagian orang harapkan.
”Aku selalu menunggumu. Memiliki waktu untukmu. Menjaga cinta untukmu”. Sebaris pesan ku kirimkan. Yang aku tahu, akan segera dihapusnya. Bukan karena keengganannya, tetapi karena seharusnya seperti itu.
”Kamu bodoh. Sebodoh-bodohnya manusia yang pernah dilahirkan !!”. Serampah itu kerap ku dengar. Sakit terasa di awal. Tapi kemudian telingaku telah menebal, dan menahan kembali semua kata-kata yang melayang menuju indera pendengaranku.
Aku mungkin bodoh.Tetapi hatiku tidak buta. Aku rela berada dalam gelap, menanti dalam kesendirian, berharap cemas dalam kegamangan, hanya untuk tetap menumbuhkan rasa ini, rasa yang telah membuatku hidup dan percaya bahwa ada seseorang yang diciptakan untuk kita. Rasa yang telah membuatku percaya dan yakin, bahwa aku hidup untuk memberinya bahagia. Bahagia yang tidak bisa didapatkan, kecuali dari aku. Aku yang selalu memberinya telinga untuk mendengar. Aku yang selalu memberinya kedua tangan untuk menegakkan kepalanya. Aku yang selalu mengiringi langkahnya, saat kelam dan terang.
Aku sadar, bahwa ini jalan yang ku pilih. Pilihan yang juga dipilihnya. Dipilih oleh kami.Jadi, jangan bilang aku bodoh, karena aku hanya menjalani pilihanku.


